Kenali Dampak Psikologis Anak Stunting

STUNTING pada anak tidak hanya menimbulkan dampak fisik. Namun juga menimbulkan dampak psikologis yang disebabkan oleh keterlambatan perkembangan dalam banyak aspek.

Psikolog RSUD Tugurejo Semarang, Anna Heliantin menyampaikan, mengutip dari World Health Organization (WHO), penyebab stunting adalah gizi buruk, infeksi berulang dan kurangnya stimulasi psikososial. Hal tersebut terjadi secara simultan dan terus menerus pada seribu hari pertama hidup bayi.

“Ada beberapa aspek yang menunjukkan keterlambatan perkembangan. Seperti penurunan kapasitas belajar dan aktivitas bermain, lalu kurang antusias dalam eksplorasi lingkungan (menjadi pendiam, apatis),” ujarnya saat dihubungi Joglo Jateng, Kamis (15/9).

Menurutnya, anak dalam kondisi tersebut akan berkembang menjadi disfungsi psikososial. Yaitu seperti menjadi kurang percaya diri, sulitnya adaptasi, mudah cemas, rentan depresi, dan hiperaktif.

“Contohnya anak merasa minder, tidak nyaman berinteraksi dengan temannya. Lalu menimbulkan perasaan frustrasi,” ungkapnya.

Selain itu, ia menyebut, pertumbuhan anak jadi terhambat dapat disebabkan oleh berbagai hal. Seperti, kurangnya asupan nutrisi selama proses kehamilan hingga anak lahir.

Kondisi tersebut dapat mempengaruhi pertumbuhan organ-organ penting dalam tubuh bayi. Sehingga saat dilahirkan, kondisi bayi akan mengalami keterlambatan pertumbuhan. Bahkan, tambahnya, keterlambatan ini juga bisa disebabkan oleh kurangnya stimulasi dari orang tua.

“Misal, anak tidak diberikan stimulasi belajar berjalan atau berbicara. Hanya dibiarkan di dalam gendongan saja. Maka hal ini juga bisa menimbulkan keterlambatan berjalan dan berbicara,” bebernya.

Sementara, Anna mengatakan, efek sosial bagi anak yang bersangkutan tentu akan merasa rendah diri dan tidak berharga. Mungkin menjadi bahan perundungan (bullying) teman-temannya. Tentu hal ini sangat membuat anak tidak nyaman. Apalagi secara fisik tampak berbeda dari yang lain.

Oleh karena itu, pihaknya menyarankan, untuk mencegah stunting tentu dengan melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin dan berkonsultasi pada dokter yang menangani. Setelah kelahiran, rajin ke posyandu untuk dipantau pertumbuhan anaknya dan mendapat informasi penting untuk kesehatan bayi/anak.

“Bagi yang mengalami stunting, berkonsultasi pada dokter spesialis anak untuk mendapatkan penanganan. Konsultasi dengan Psikolog Klinis untuk mendapatkan edukasi pola asuh dan stimulasi pada anak, serta ikuti program rehabilitasi yang disarankan oleh dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi,” jelas Anna. (ziz)

Related posts:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TOP